Senin, 14 September 2015

The mirror of your heart


Assalamu'alaikum Wr. Wb. 

Sahabat yang kucintai karena Allah, Masing-masing dari kita mempunyai tingkat keimanan yang berbeda. Fluktuasi iman seseorang pun naik turun tanpa diduga. Terkadang seseorang semangat dalam beribadah, namun terkadang seseorang tersebut mengalami futur. Percayalah, setiap orang berhak memasuki surga-Nya. Namun apakah diri kita termasuk orang yang pantas untuk masuk ke surga-Nya? Kita tidak dapat masuk tanpa jaminan apa-apa. belum lagi jika memperhitungkan hatimu. Ya, kenapa dengan hatimu? tentu saja karena disana tersimpan semua niat-niatmu. sebab dari niat itulah semua yang kau jalani akan diperhitungkan.
Nah, sekarang. Dapatkah kau jelaskan bahwa niatmu beribadah untuk apa?
Sanggupkah kau berkata bahwa hatimu berbuat karena benar--benar ikhlas lillahi ta'ala?
Jawablah sahabat. Jujur dari hatimu yang paling dalam. bercerminlah terlebih dahulu sebelum menjawabnya.

"Iman seseorang tidak akan lurus (benar) sebelum hatinya lurus." (HR. Ahmad, no. 13079). 

            Sahabat, percayalah. Ampunan Allah sangat luas, seluas samudera dan bahkan jauh lebih luas dari itu. Allah sangat menyayangimu lebih dari yang kau ketahui. Tangan Allah selalu menggenggam hatimu, menjagamu, bersamamu bahkan ia tak pernah alpha melindungimu.

            Sahabat, kalaupun saat ini Allah memberimu suatu hal yang membuatmu sesak, sulit dan terlihat di luar batas kemampuanmu, maka kau tak perlu risau. Sesungguhnya saat itu Allah sedang melihat kepanikanmu dan tersenyum kepadamu. Itu hanyalah satu dari sekian banyak cara Allah untuk menyayangimu. Jika Allah memberi sesuatu, maka pasti ada titik balik dari sesuatu tersebut. Bukankah harus ada hujan untuk melihat pelangi? Oleh karena itu, kita harus diuji terlebih dahulu untuk meningkatkan level keimanan kita, bukan? 

            Sahabat yang sangat aku cintai karena Allah, jangan pernah berpikir Allah membenci hambanya ketika diri kita diberikan ujian. Bukankah Sahabat tahu bahwa tangan Allah selalu menggenggam hati kita? Merangkul kita, dan menuntun kita untuk melangkah. Oleh karena itu, berhusnudzanlah kepada-Nya. Sang maha cinta yang tak pernah habis cintanya untuk makhluknya yaitu Allah SWT.


Bumi Allah, 14 September 2015


#Makhluk-Nya yang sedang mengejar cinta-Nya
#Akhwat yang sedang bermetamorfosis

Jumat, 11 September 2015

Suatu Hari Nanti

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
 
“Aku masih seperti yang dulu, mencintaimu dengan rasa iman ku, cinta kita bagai satu tubuh yang tak terbatas jarak dan waktu. Sebab cintaku bukan karena dunia melainkan karena Sang Maha Cinta yaitu Allah SWT.” (Ovalina S.Gt)

Suatu hari nanti akan ada batas dalam tiap perjalanan. Beberapa kisah yang telah kita ciptakan bersama mungkin saja tak akan lagi sama di masa yang akan datang. Hingga kita tersadar bahwa kisah itu harus disimpan dalam-dalam. 

Ukhtifillah, Pernahkah kau mengingat bagaimana Allah mempertemukan kita?
Pernahkah kau bayangkan apabila kita tak saling menautkan jemari kita satu sama lain?
Sungguh, aku tak mampu membayangkannya. Sulit rasanya membayangkan apabila dulu kita tak saling menautkan jemari kita. 

Ukhti, Aku yakin pada dasarnya Allah tak begitu saja menautkan jemari kita secara kebetulan. Melainkan ini merupakan satu episode yang Allah ciptakan dalam memperindah proses perjalanan kita. Tentunya untuk menjadi bidadari yang insyaAllah akan berada di Jannah-Nya. Aamiin..

Ukhti, terkadang aku takut untuk terus berjalan. Menapaki episode-episode baru, dan meninggalkan episode lama yang kian berdebu. Tak tahu kapan lagi aku harus menoleh ke belakang, untuk sekedar merapikan skenario yang terserak di episode perjalanan yang telah lewat.

Kau tahu, Ukh?
Aku takut, suatu hari nanti waktu akan menelan spasi dan melebarkannya.
Aku takut, suatu hari nanti doa-doa itu tak lagi membasahi lisan kita.
Aku takut, kita terlalu nyaman berjalan bersisian, hingga terlupa bahwa tangan kita tak lagi bertautan satu sama lain.

Apabila suatu hari nanti aku tak lagi bersamamu, maka pahamilah jejakku.
Apabila suatu hari nanti aku lelah.. Jangan tinggalkan aku yaa.. temani aku sejenak untuk bersandar di bawah pohon. Lalu bersama-sama melanjutkan perjalanan kita.
Terima kasih telah menjadi salah satu warna dalam hidupku. Sebuah warna yang tak akan tergantikan tempatnya oleh yang lain..


Bumi Allah, 11 September 2015

#Akhwat yang sedang bermetamorfosis

Rabu, 09 September 2015

Dream list (?)


“Every great dream begins with a dreamer. Always remember, you have within you the strength, the patience, and the passion to reach for the stars to change the world.” (Harriet Tubman )

“Apa kamu memiliki sebuah impian?”
Hmm.. Aneh rasanya ketika tiba-tiba ditanya seperti itu. Yaa, tentu saja aku memiliki impian. Bahkan tidak hanya diriku, mereka juga pasti memiliki impian. Ku katakan dengan tegas bahwa setiap orang pasti memiliki impian yang akan dicapai.  

“Kenapa orang harus memiliki impian?”
Karena impian adalah suatu target yang ingin diwujudkan oleh seseorang. Baik itu prestasi, pekerjaan, kebahagiaan, atau bahkan cinta.

“Apakah kamu percaya dengan impianmu? Tidakkah kamu takut bahwa pada akhirnya kamu akan kecewa dengan impianmu?”
Tentu saja aku percaya dengan impianku. Aku percaya bahwa ketika usahaku tak dapat menghantarkanku kepada impianku, maka Allah memiliki sesuatu hal yang bahkan lebih indah dibandingkan dengan impianku. Bukankah pada akhirnya Allah lah yang menentukan hidup kita? Maka sudah selayaknya diriku ikhlas menerimanya.

**

Hujan di sore ini membuat diriku teringat dengan dream list yang sudah 2 tahun lalu ku buat. Seakan bertanya kepadaku apakah sudah tercapai semua dream list tersebut?
Langkah apa saja yang sudah ku buat untuk mempertanggungjawabkan dream list yang sudah dibuat?
Mengapa diriku tidak amanah dengan dream list yang sudah dibuat sendiri?
Mengapa hanya membiarkan dream list tersebut sebagai pajangan di dinding kamar?
Sangat Menyedihkan, bukan?

Pada akhirnya sulit sekali untuk memiliki komitmen yang kuat kepada dream list tersebut. Diriku tidak mampu. Oh, bukan tidak mampu. Melainkan belum bersungguh-sungguh untuk memampukan diriku sendiri. Diri ini lebih suka bermain dibandingkan memikirkan bagaimana caranya untuk membuat nyata dream list tersebut. Namun aku percaya, suatu saat nanti Allah akan memberikan jalan terhadap dream list yang sudah ku buat.

Tahukah kau? Saat ini aku sedang melangkah kembali untuk menjadikan nyata dream list tersebut. Walaupun saat ini langkahku tak setegap langkahmu.. Saat ini aku sedang terseok mengejarmu. Dan sekali lagi aku percaya bahwa Allah akan memberikan jalan terbaiknya.

Ketika terjadi tumbukan antara batu dan air, air selalu menang bukan karena kekuatannya melainkan karena ketekunannya.”

Fighting! Allah yubarik fik^^

#Akhwat yang sedang bermetamorfosis







Senin, 07 September 2015

Silaturrahim Mahasiswa Baru (SMB) 2015



“Sesungguhnya kaum mukminin itu adalah bersaudara.” (QS. Al-hujurat: 10)

Bismillahirrahmanirrahiim..

Silaturrahim Mahasiswa Baru (SMB) merupakan acara tahunan yang dilakukan oleh UKMI ATH-THIBB FF USU untuk menyambut mahasiswa baru 2015. Dimana acara SMB berlangsung pada hari sabtu tanggal 5 September 2015 di aula lt. 1 fakultas Farmasi USU. SMB 2015 mengangkat tema Farmasi Unggul Berkarakter Islami, hal ini dimaksudkan agar lahirnya generasi-generasi pharmacist yang memiliki karakter islam dalam dirinya. Sebab karakter islam tersebut yang akan menjadi pembeda dengan yang lainnya. 

Rangkaian acara SMB 2015 sangat menarik, diantaranya kata sambutan, thalkshow, tukar kado, pembagian kaka mentoring, makan siang bersama, games, serta pembagian kaka/abang asuh. 

Acara SMB 2015 memiliki 2 sesi thalkshow. Dimana sesi pertama oleh Prof. Urip Harahap., Apt. yang merupakan guru besar Fakultas Farmasi USU dengan moderator Gita Perdana dan sesi kedua oleh Rohma Dearni dan Gita Adinda Nasution dengan moderator Mila Aisyah Husein. Kedua sesi talkshow tersebut sangat menarik. Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari masing-masing talkshow tersebut. Salah satunya menurut Prof. Urip Harahap., Apt. “Mahasiswa yang pintar adalah mahasiswa yana aktif, tanggap, pintar mengatur waktu, memiliki nilai akademik yang bagus, serta memiliki karakter islam dalam dirinya”. Selain itu menurut Rohma Dearni “Mahasiswa itu harus dapat berbagi agar orang-orang di sekitar kita dapat mengambil manfaat dari ilmu yang sudah didapat”. Semoga adik-adik peserta SMB dapat mengambil banyak pelajaran dari talkshow tersebut.

Untuk lebih memeriahkan acara SMB, maka setelah makan siang bersama diadakan games, dimana games tersebut memiliki 7 posko. Sangat menarik melihat adik-adik 2015 bermain games. Bahkan tak terasa waktu sudah berlalu hingga waktu ashar tiba. Lalu ba’da ashar diadakan pembagian kaka asuh dan pembagian kado. Finally, SMB 2015 ditutup oleh Rivaldo Perdana Putra selaku demisioner UKMI ATH-THIBB dan Doa.

Kepada adik-adik panitia yang sudah bekerja keras untuk mensukseskan acara SMB 2015, ingatlah bahwa Allah maha tahu atas segala kebaikan yang telah adik tanam. Mari sama-sama meraih ridho-Nya..

“Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarah niscaya ia akan menerima pahalanya, dan barangsiapa yang melakukan keburukan sebesar biji zarah niscaya ia akan menerima balasannya.” (Qs. Az-Zalzalah: 7-8)


Keep Hamasah, Allah yubarik fik ;)

Jumat, 03 Juli 2015

Di Bawah Rinai Hujan



Hujan memang tak menghapus kenangan, justru menghadirkannya kembali meski tak sebanyak rinai yang ia punya-

Sore ini rinai hujan jatuh berderai dari angkasa, merembes di tepi jendela kamar. Hembusan Angin menyematkan dingin yang menggigil, hingga tanpa sadar ku tiup kedua tanganku untuk mentrasfer panas yang ku miliki.

“Yah, lagi-lagi hujan”, desahku. Entah kenapa sudah 3 hari berturut-turut angkasa mengirimkan rinainya ke bumi. Membasahi tiap dahan yang kering dan menyirami tanah yang tandus. Dimana tiap butirnya saling bersahutan menghasilkan suara gemericik yang memiliki rithme khusus.
Suara gemericik dari ranting dan halaman menjadi lagu tersendiri, menuntunku kembali ke masa lalu. Yah, memang benar, Hujan seperti mesin waktu. Apakah kau tahu itu?
 
Saat itu menjelang senja di sebuah halte dekat kampusku, kau berbicara panjang lebar sedangkan aku hanya menjadi pendengar yang baik. Tak memperdulikan ramainya orang berebut tempat untuk berteduh, melindungi diri dari ribuan rinai hujan yang siap menyerangnya.
“Kau tahu? Hujan adalah pasukan pembawa pesan dari langit menuju tanah”, katamu tiba-tiba. Lalu dengan senyum khasmu kau mencoba menangkap rinai itu dalam tadahan tanganmu yang kemudian menimbulkan bunyi berkecipak di telapak tanganmu.
“Itulah cara langit menyentuh tanah yang hanya bisa dipandanginya dari atas. Sosok yang ia ingin lindungi setiap saat”, lanjutmu.
Saat itu aku hanya terdiam menelaah kalimat dari ucapanmu. Lalu sebelum ku ucapkan kalimat kontra atas opinimu, kau tiba-tiba menerobos rinai itu lalu meninggalkanku yang hanya dapat mengamati punggungmu yang kian menjauh.

Hei kamu, aku tak sependapat denganmu bahwa hujan adalah pembawa pesan langit kepada tanah. Kalau memang langit mencintai tanah, biarkanlah cinta itu tetap diam. Langit ataupun tanah tak perlu menjabarkan rasa itu. Karena dengan begitu mereka akan menghambarkan rasa sebelum mencicipinya. Biarkan mereka tetap seperti itu, bukankah tak butuh kata untuk bisa memahami kalau itu cinta?

Selalu ada cerita yang tersimpan di hatiku
tentang kau dan hujan

Aku bisa tersenyum sepanjang hari
karena hujan pernah menahanmu disini
untukku...